Keep Hamazah!

Pages

  • Islam and Medicine

Blog Archive

  • ▼  2013 (3)
    • ▼  Oktober (1)
      • Harun Yahya As A Role Model in My Writing World
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2011 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)

About Me

Foto Saya
Alfi Kamalia (Alfun Hamazah)
saya tidak bisa menjanjikan apapun tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bersyukur dan menjunjung kemanfaatan
Lihat profil lengkapku

Followers

Sabtu, 19 Oktober 2013

Harun Yahya As A Role Model in My Writing World




Gambar diatas, adalah salah satu potret dari bapak Adnan Oktar (yang memiliki nama pena Harun Yahya) yang saya peroleh dari fasilitas gambar di google. kenapa saya harus memasang foto itu? mungkin pertanyaan itu yang terlintas di benak pembaca kali ini. Okidoki, saya terinspirasi oleh karya-karya beliau, salah satunya adalah karya dengan judul "Indahnya Penciptaan Manusia". Pada karya tersebut beliau mampu menunjukkan fakta Keesaan dan Kebenaran Allah dan Al Quran secara scientic. Oleh karena itu, sempat terlintas dibenak saya, jika suatu saat saya ingin jadi penulis (karena memang saya tidak berniat menjadi klinisi full time) maka saya akan menjadikan beliau sebagai role model penulisan saya. Dengan demikian hal pertama yang saya lakukan adalah membaca biografi beliau, dan setelah membaca beberapa biografi beliau. SubhanAllah, menjadikan Allah sebagai tujuan utama, membela Allah dan agama sebagai tujuan utama adalah landasan beliau dalam menulis. Untuk lebih lengkapnya silahkan membaca lebih lengkapnya sebagai berikut:

Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar. Beliau lahir di Ankara pada tahun 1956. Sebagai seorang da'i dan ilmuwan terkemuka asal Turki, beliau sangat menjunjung tinggi nilai akhlaq dan mengabdikan hidupnya untuk mendakwahkan ajaran agama kepada masyarakat. ia dibesarkan di kota ini hingga lulus SMU. Komitment beliau terhadap Islam tumbuh semakin kuat ketika beliau duduk di bangku SMU. Pada periode ini, pengetahuan yang mendalam tentang Islam beliau dapatkan dari membaca berbagai buku-buku agama. Di samping itu, beliau juga memperoleh pemahaman tentang fakta-fakta penting lain yang kemudian beliau beritahukan kepada orang-orang di sekitarnya.
 
Pada tahun 1979, Adnan Oktar pindah ke Istanbul untuk menuntut ilmu di Universitas Mimar Sinan. Di masa inilah beliau mulai melaksanakan misi dakwah, menyeru manusia kepada akhlaq yang baik dan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. 

nah bagian yang saya underline itu merupakan intinya, jadi tujuan beliau adalah untuk amar ma'ruf nahi mungkar.


Masa-masa di Universitas Mimar Sinan

Sejak sebelum Adnan Oktar memulai kuliah di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, institusi pendidikan tersebut telah berada di bawah pengaruh berbagai organisasi ilegal berhaluan Marxisme, sehingga pemikiran kekirian tampak jelas mendominasi kampus. Setiap orang, apakah ia staf di sebuah fakultas ataupun mahasiswa, adalah sosok materialis yang berpola pikir atheis. Sungguh, para staf pengajar mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyebarkan filsafat materialistik dan Darwinisme dalam kuliah-kuliah yang mereka berikan kendatipun dua hal ini tidak ada hubungannya dengan topik kuliah mereka. Dalam lingkungan dimana ajaran agama dan akhlaq tidak dipedulikan dan sama sekali ditolak, Adnan Oktar menyeru orang-orang di sekitar beliau kepada keesaan dan keberadaan Allah. Sebagaimana mungkin telah dimaklumi, dalam kondisi demikian, Islam tidak diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang. Ibu beliau, Ny. Mediha Oktar, menuturkan bahwa pada masa itu beliau hanya tidur beberapa jam saja di malam hari, sebagian besar sisa waktu beliau gunakan untuk membaca, membuat catatan dan menyimpan kumpulan catatan tersebut.

Beliau membaca ratusan buku, termasuk karya-karya pokok tentang Marxisme, komunisme dan filsafat materialistik, dan mempelajari buku-buku ideologi kiri, termasuk karya-karya klasik ataupun literatur-literatur lain yang jarang dibaca orang. Beliau meneliti karya-karya tersebut, menandai bagian-bagian penting dan membuat catatan-catatan di bagian belakang buku tersebut. Hal ini membuat beliau sangat tahu tentang filsafat-filsafat serta ideologi-ideologi tersebut, jauh lebih tahu dibandingkan para pendukung ideologi itu sendiri. Beliau juga melakukan riset yang mendalam tentang teori evolusi yang dianggap sebagai landasan ilmiah dari ideologi-ideologi tersebut dan mengumpulkan berbagai dokumen dan informasi yang berhubungan dengannya. Setelah mengumpulkan informasi yang berlimpah tentang berbagai kebuntuan, kontradiksi dan kebohongan yang terdapat dalam filsafat dan ideologi yang didasarkan atas pengingkaran terhadap Allah ini; tanpa membuang-buang waktu lagi, Adnan Oktar menggunakan informasi tersebut untuk menyebarkan fakta-fakta yang ada.

Hampir ke setiap orang, termasuk para mahasiswa dan staf pengajar di universitas, beliau mendakwahkan keberadaan dan keesaan Allah, serta Al Qur’an, Kitab Suci yang diwahyukan Allah, dengan menggunakan bukti-bukti saintifik. Di tengah-tengah pembicaraan di kantin kampus, di koridor-koridor di saat jam istirahat, seseorang dapat melihat beliau sedang menjelaskan kelemahan dan kesalahan filsafat materialistik dan Marxisme dengan mengambil cuplikan dari buku-buku yang menjadi referensi dari ideologi itu sendiri. Beliau memberikan perhatian khusus kepada teori evolusi. Teori yang dimunculkan oleh kelompok tertentu untuk melawan fakta penciptaan ini diyakini sebagai sesuatu yang benar oleh para mahasiswa universitas secara luas. Dengan menggunakan kedok sains, teori tersebut sebenarnya bertujuan untuk meracuni dan menghancurkan akidah dan akhlaq dari para pemuda tersebut. Seandainya makar jahat dari kebohongan ilmiah ini tidak dibongkar, maka akan muncul generasi penerus yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai spiritual, moral dan religius.


Latar belakang gerakan dakwah beliau adalah lingkungan yang tidak sesuai dengan aturan Allah. Hal inilah yang mendorong beliau untuk menciptakan karya karya yang menunjukkan kekusaan Allah secara scientifik karena metode inilah yang sesuai dengan sasaran dakwah beliau.



Diposting oleh Alfi Kamalia (Alfun Hamazah) di 07.21 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Senin, 19 Agustus 2013

R4BIA: Keteguhan, Kekuatan, Perlawanan, dan Persatuan




Assalamualaikum, 
sobat muslim dimanapun anda berada, sekedar berbagi ya,
kemarin ada seorang kawan mengirimkan short messagenya melalui media sosial yang intinya "Marilah kita support egypt anti coup dengan memasang twibbon salam 4 jari di akun facebook atau twitter", its ok, dimanapun kita marilah kita membantu melalui media apapun yang bisa kita jangkau.
so let's explore about R4BIA.

Dalam bahasa Arab, Rabi'ah/arba'ah bermaksud Empat. Rab'ah (angka 4) dijadikan sebagai simbol keteguhan, kekuatan, perlawanan dan persatuan untuk seluruh dunia yang mencintai kebebasan.

Simbol 4 jari sebagai simbol untuk mengenang markas demonstran pendukung Mursi di Rabi'ah yang telah dihancurkan oleh tentara rezim Mesir. Simbol 4 jari untuk menunjuk ikon Rabi'ah.

Simbol 4 jari ini diluncurkan oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayip Erdogan mulai Sabtu (17 agustus 2013) setelah mengecam keras pembantaian yang dilakukan tentera junta Mesir yang terjadi pada hari Jumat dan Sabtu di Ramses Square dan Masjid Fatih yang dikepung tentara rezim.

Tujuan avatar simbol #R4BIA dipakai oleh pendukung Morsi/Mesir di media sosial seperti facebook dan twitter sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap apa yang sedang terjadi di Mesir. Selain menimbulkan kesadaran orang ramai agar lebih peka mengenai krisis di Mesir sekarang ini.

Di jejaring sosial twitter, facebook dan juga profil picture di BlackBerry Messenger, Whatsapp atau pun Yahoo! Messenger simbol ini sudah massif dipakai. Ini adalah simbol keberanian, simpati, dan keberpihakan kepada rakyat yang menuntut haknya dipimpin oleh pemimpin yang ta'at kepada Allah swt.

Diposting oleh Alfi Kamalia (Alfun Hamazah) di 20.43 2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 11 Januari 2013

Sholat Tahajud Sebagai Terapi Protektif Terhadap Faktor 
Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Alfi Kamalia (102010101028, 2010), Sayyidah Auliany A. (102010101041, 2010)
Fakultas Kedokteran Universitas Jember
2011
Pada tahun 2010 dilaporkan PJK  merupakan penyebab utama dan pertama dari seluruh kematian, yakni sebesar 26,4%, angka ini empat kali lebih tinggi dari angka kematian yang disebabkan oleh kanker (6%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institute HeartMath, variabilitas denyut jantung (HRV) merupakan indikator penting dari fisiologis tubuh dan perilaku.
Karena sedemikian pentingnya fungsi jantung terhadap kehidupan manusia, selain sebagai organ pemompa darah, jantung juga berperan penting terhadap perubahan perilaku. Dan dengan terus meningkatnya prevalensi penyakit jantung, khusunya di Indonesia, maka dibutuhkan suatu sarana yang mampu memberikan proteksi terhadap penyakit jantung khusunya penyakit jantung koroner sehingga jantung tetap terpelihara baik.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang artinya sebagai berikut:
 “Shalat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit, (HR Tirmidzi)”.
Hadis Nabi Saw tersebut, sholat tahajut memberikan berbagai manfaat baik dari segi spiritual maupun segi kesehatan, yakni mampu menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit. Hal ini menimbulkan sebuah ketertarikan bagi penulis untuk menelaah lebih jauh mengenai hubungan dari ibadah mahdah dengan risiko sebuah penyakit. Oleh karena itu, dalam karya tulis ini penulis menelaah bagaimana implikasi sholat tahajud sebagai terapi protektif terhadap risiko penyakit jantung koroner.
Tujuan penulisan dari karya tulis ini adalah sebgai berikut: untuk mengetahui karakteristik sholat tahajud yang mampu menurunkan sekresi hormone kortisol dan untuk mengetahui implikasi sholat tahajud sebagai terapi protektif terhadap risiko penyakit jantung koroner.
Shalat tahajud merupakan salah satu sholat sunah yang bukan rawatib. Tahajud artinya bangun dari tidur. Sholat tahajud artinya sholat sunah yang dilakukan pada wantu malam hari dan dilaksanakan didahului dengan tidur walaupun tidurnya hanya sebentar(Abu Husein, 1992). Faktor risiko penyakit jantung koroner dibedakan menjadi dua, yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan (nonmodifiable risk factors)( Brian H. Galbut MD, Michael H Davidson MD,2005) meliputi keturunan, umur, dan jenis kelamin; faktor yang dapat dikendalikan (modifiable risk factors) (M. Montaye, D. De Bacquer, G. De Backer and P. Amouye,2000), meliputi hipertensi, merokok, penyakit Diabates Mellitus, stres, obesitas, hiperkolesterolemia, diet, aktivitas fisik.
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan menggunakan beberapa metode. Antara lain dengan metode deskriptif, literature, diskusi, pemikiran subyektif, analisis dan alur pemikiran.
Sholat tahajud dilaksanakan dengan niat ikhlas, dengan keinginan yang kuat dan menunggalkan tujuan hanya kepada Allah Swt., dipersepsikan positif, maka amigdala akan mengirimkan informasi kepada Locus Coeruleus (LC) yang mengaktifkan reaksi syaraf otonom. Lewat hipotalamus, mensekresi neurotransmitter, endorphin, dan enkepalin, yang berfungsi penghilang rasa sakit dan pengendalian sekresi CRF secara berlebih. Akibatnya, sekresi ACTH juga stabil dan terkendali. Dan akhirnya sekresi kortisol akan terkendali, sesuai dengan irama sirkadian, yakni rendah pada malam hari. 
Sekresi kortisol akan terkendali, sesuai dengan irama sirkadian, yakni rendah pada malam hari. Konsentrasi kortisol yang rendah akan mengakibatkan sekresi renin juga stabil, sehingga tidak terjadi peningkatan tekanan arteri, hipertensi dan menimbulkan efek terapi protektif terhadap penyakit jantung koroner.  
Pada pengamal sholat tahajut, akan terjadi penurunan kadar kortisol sehingga mereka berada pada keadaan emosi positif. Dengan demikian, sholat tahajud sebagai sarana protektif terhadap risiko penyakit jantung dengan memberikan efek berupa penurunan kortisol sehingga tercapailah keadaan emosi positif (ketenangan) yang mampu mengendalian diri, khususnya pengendalian terhadap amarah. 
Karakteristik sholat tahajut yang mampu menurunkan sekresi hormon kortisol adalah sholat tahajud yang dilaksanakan dengan niat ikhlas. Implikasi sholat tahajud terhadap faktor risiko penyakit jatung koroner dengan mencegah timbulnya hipertensi dan amarah. Sementara itu, sholat tahajud diduga mampu memberikan proteksi terhadap faktor risiko lainnya, yakni diet, hiperkolesterolemia, obesitas aktivitas fisik, dan merokok.
Keyword: PJK, Sholat Tahajud, Kortisol, dan Faktor Risiko PJK


Diposting oleh Alfi Kamalia (Alfun Hamazah) di 02.04 1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 23 November 2012

Sepiring Inspirasi Dari Langit -Sang Pemenang-



Ribuan kali bumi mengelilingi matahari.
Ratusan kali bulan mengitari bumi.
Dalam masa itu,
terlahir orang yang
berkali-kali mengubah wajah dunia. 
Dalam masa itu pula, 
lahir orang-orang yang
tak pernah berbuat apa pun
hingga saat mereka dikubur di perut bumi. 
Banyak. Jumlah mereka banyak, 
bahkan terlalu banyak. 
Namun, sejarah tak penah menitikkan setetes
tinta pun untuk apa yang mereka lakukan.
Sepertinya, keberadaan mereka sama dengan tidak adanya.
Kalaupun ada namun tidak ada artinya.
Bumi akan menjadi saksi
atas apapun yang kalian lakukan.
Ada pejuang, ada pecundang. 
Pilihan ada di tangan kalian!
dikutip dari Sepiring Inspirasi dari Langit by Mirza Ghulam I.

Diposting oleh Alfi Kamalia (Alfun Hamazah) di 03.48 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Sabtu, 04 Agustus 2012

Siroh Nabi Saw: MUHAMMAD DARI KELAHIRAN SAMPAI PERKAWINANNYA



USIA Abd’l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd’l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka pergilah anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya. Sebagian penulis sejarah berpendapat, bahwa ia pergi menemui Uhyab, paman Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah meninggal dan dia di bawah asuhan pamannya. Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd’l-Muttalib juga kawin dengan Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd’l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil.

Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Begitu berita sampai kepada Abd’l-Muttalib ia mengutus Harith - anaknya yang sulung - ke Medinah, supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abd’l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abd’l-Muttalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di samping itu umur Abdullah yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu ia memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa’d (Banu Sa’d), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur l’Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd’l-Muttalib.

Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji,1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Aminah masih menunggu akan menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang Keluarga Sa’d yang akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah. Adat demikian ini masih berlaku pada bangsawan-bangsawan Mekah. Pada hari kedelapan sesudah dilahirkan anak itupun dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan.

Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia hijrah ke Medinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia menanyakan tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan. Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa anak itu juga sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari sang ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua’ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-‘Uzza suaminya:

“Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga.”

“Baiklah,” jawab suaminya. “Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.”

Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga memang dikuatirkan dari adanya serangan wabah Mekah.

Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.”

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah - ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata:

“Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya.” Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu. Demikian juga cerita yang dibawa oleh Tabari, tapi ini masih di ragukan; sebab dia menyebutkan Muhammad dalam usianya itu, lalu kembali menyebutkan bahwa hal itu terjadi tidak lama sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.
Catatan kaki:
1 Muhammad atau Mahmud artinya yang terpuji (A).
Dapus :
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD by MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL



Diposting oleh Alfi Kamalia (Alfun Hamazah) di 02.26 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
@ 2011 Keep Hamazah!; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog